KABUPATEN PURWAKARTA

Pemerintah Diminta Mencabut Izin Usaha Pertambangan Batu

Pemerintahan  RABU, 09 OKTOBER 2019 , 18:06:00 WIB | LAPORAN: YUSLIPAR

Pemerintah Diminta Mencabut Izin Usaha Pertambangan Batu

Hujan batu raksasa hancurkan rumah warga di Purwakarta/RMOLJabar

RMOLJabar. Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menyerukan kepada pemerintah agar mencabut izin usaha pertambangan batu.

Seruan ini terkait dengan peristiwa ledakan tebing di lokasi pertambangan batu. Tepatnya, di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, pada Selasa (8/10) lalu.

Akibat aktivitas tersebut, sebanyak 6 rumah dan satu sekolah diketahui mengalami kerusakan. Menurut Dedi, pencabutan izin yang dia serukan merupakan usulan sanksi kepada setiap perusahaan pertambangan yang melakukan kecerobohan. Lokasi tambang batu di Desa Sukamulya sendiri berada dibawah kendali PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS).

"Untung tidak warga yang sedang berada di dalam rumah. Itu kalau sampai ada, bisa banyak korban jiwa," kata Dedi, Rabu (9/10).

Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menyebut izin usaha pertambangan kini berada di tangan pemerintah provinsi. Meski begitu, rekomendasi dimulai sejak dari pemerintahan setempat yakni dari desa hingga kabupaten. Pola tersebut sesuai dengan aturan yang sudah dibakukan oleh pemerintah berdasarkan undang-undang.

Pemerintah kabupaten melalui Dinas Lingkungan Hidup bertanggung jawab atas dua dokumen. Yakni, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Sementara izin usaha berada di tangan Provinsi Jawa Barat melalui leading sector terkait.

"Cabut saja semuanya, tidak perlu ada evaluasi. Lebih baik, tutup penambangannya," tegasnya.

Fenomena Lain Di Jawa Barat

Ketua DPD Golkar Jawa Barat itu menambahkan bahwa peristiwa di Purwakarta harus menjadi cermin bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hasil blusukannya sebagai ketua partai banyak menemukan fenomena tambang batu yang cenderung merusak lingkungan. Selain itu, lokasi pertambangan yang tidak strategis turut menyumbang gangguan mobilitas warga di Jawa Barat.

"Saya pernah berkeliling Garut dan menemukan lokasi tambang di pinggir jalan besar. Ini jelas mengganggu mobilitas warga disamping lingkungan menjadi rusak. Kalau dibiarkan, aspek mudhorot-nya lebih besar dari aspek manfaat. Hemat saya, lebih baik ditutup juga," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Purwakarta memberikan keterangan. Menurut Wahyu Wibisono selaku kepala dinas, jumlah korban terdampak hujan batu di Purwakarta sebanyak 215 jiwa. Jumlah tersebut berasal dari 68 Kepala Keluarga.

Kampung Cihandeuleum sendiri tepatnya di lingkungan RT 009 RW005 kini dijaga ketat aparat terkait.

"Para petugas kita bersiap di lokasi untuk membantu warga sejak kejadian kemarin. Sampai hari ini, kita masih melakukan langkah-langkah penanganan,” katanya.

Wahyu menjelaskan bahwa peristiwa tersebut diakibatkan oleh aktivitas blasting atau peledakan. Kegiatan itu dilakukan PT MMS pada Pukul 13.00 WIB, kemarin.

"Hasil pengecekan di lapangan dan berdasarkan keterangan saksi, batu itu bergerak dari ketinggian 500 meter dari pemukiman warga. Kita masih terus pantau semuanya,” ujarnya.[son]



Komentar Pembaca