Penusukan Wiranto Kejahatan Politik, FKIM: Polri Harus Tindak Sampai Ke Akarnya

Politik  KAMIS, 10 OKTOBER 2019 , 19:30:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

Penusukan Wiranto Kejahatan Politik, FKIM: Polri Harus Tindak Sampai Ke Akarnya

Forum Komunikasi Indonesia Maju (FKIM) Jawa Barat/RMOLJabar

RMOLJabar. Kejadian penusukan yang terjadi kepada Menko Polhukam Wiranto di kabupaten Pandeglang Banten, Kamis (10/10), bukan hal yang kebetulan. Pasalnya, Wiranto merupakan salah satu nama dari lima orang yang akan dibunuh sebelumnya.

Begitu dikatakan, Ketua Umum Forum Komunikasi Indonesia Maju (FKIM) Jawa Barat MQ Iswara, di Bandung, Kamis (10/10).

"Kita mengutuk keras dan prihatin, karena Wiranto ini satu dari lima pejabat tinggi negara yang pernah di anacam pernah di bunuh beberapa waktu lalu," kata Iswara.

Atas kejadian ini kata Iswara, pemerintah terutama Polri harus menindak tegas hingga ke akar-akarnya jika memang ada karena bagaimanpun, dipastikan ada otak pelaku dibalik kejadian ini.

"Ini pasti ada otak pelakunya ada sutradra dibelakanganya, maka harus di tindak habis polri jangan ragu-ragu," tegasnya.

Wakil Ketua DPD Partai Golkar ini menjelaskan, bahwa kejadian ini baru pertama terjadi selama Indonesia berdiri, dan telah menggemparkan seluruh penjuru negara. Karena di masa orde lama ataupun orde baru, bahkan pada saat transisi pada era reformasi juga tidak pernah tejadi hal semacam ini.

"Namun kejadian ini juga membuka mata kita bahwa intoleransi dan paham radikalisme masih ada di Indonesia," ucapnya.

Kemudian terkait isu yang menyeruak bahwa kejadian tersebut adalah setingan Iswara membatah keras, kata Dia, terlalu mahal harganya jika kejadian ini merupakan setingan. Hingga saat ini kondisi kritis dan belum sadarkan diri.

"Terlalu mahal kalau ini setingan hingga mengorbakan pak Wiranto yang kondisinya hingga kritis. Tidak mungkin ini merupakan by seting dari salah satu pihak," tuturnya.

Sementara itu ketua FKIM Budi Hermansyah menambahkan, bahwa kejadian penusukan Wiranto merupakan kejahatan politik karena menyangkut pada petinggi negara, serta bertepatan momentum politik yan belum selesai.

"Ini bukan kriminal biasa tapi sudah kejahatan politik karena kejadian yang menimpa pada pucuk pimpinan negara," katanya.

Budi menambahkan, kejahatan politik seperti ini bukan dasar dari asumsi ini adalah fakta yang terjadi, pelaku pasti dari satu kelompok dengan biadab menusuk seorang Menkopolhukam.

"Artihya ini bukan urusan pribadi lagi, mungkin ada kebijakan dari pak Wiranto yang tidak sesuai dengan mereka yang pada akhirnya memutuskan dengan cara yang biadab," tuturnya.

Ketua FKIM Komarudin Taher dalam kesempatan yang sama menegaskan, kejadian ini merupakan kejadian kecil dari kemungkinan rencana kejahatan besar yang akan kelompok radikalisme ini terjadi.

"Saya mengutuk kerasa intolerasi di negara yang toleransi ini, jaringan radikalisme harus di habisi di negara ini," ucap dia.

Komarudin juga menambahkan, mendorong aparat polri tidak ragu memburu kelompok ini, sebelum terjadi kajadian yang lebih besar dilakukan oleh kelompok radikalisme seperti.

"Saya mendorong polri tegas, jangan ragu dalam mengambil keputusan terlebih pada jaringan radilisme seperti ini," pungkasnya. [yud]


Komentar Pembaca