JAWA BARAT

Penggunaan Gadget Berlebih, Banyak Anak Alami Gangguan Jiwa

Ragam  JUM'AT, 11 OKTOBER 2019 , 05:04:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

Penggunaan Gadget Berlebih, Banyak Anak Alami Gangguan Jiwa

Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat Cisarua, Elly Marliyani/RMOLJabar

RMOLJabar. Pengaruh penggunaan gadget berlebihan dapat mengalami gangguan jiwa. Terlebih, penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa hingga orang tua, melainkan anak-anak pun sekarang berpotensi tinggi masuk dalam kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat Cisarua, Elly Marliyani mengatakan, sekarang banyak anak-anak mendapat gadget, di mana awalnya pemberian dilakukan agar anak bisa bermain tanpa mengganggu kegiatan orang tua. Sayangnya, penggunaan tersebut justru membuat anak menjadi kecanduan.

"Kalau gadget dipakai berlebihan dan menjadi ketergantungan bisa mengganggu jiwa anak tersebut," ucap Elly, di Gedung Sate Bandung, Kamis (10/10).

Menurutnya, selama ini ODGJ biasanya menyerang remaja dengan usia mulai 15 tahun ke atas. Namun, dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, banyak anak-anak dimasukkan ke rumah sakit jiwa (RSJ).

"Di RSJ Jawa Barat sendiri kami telah banyak menerima anak-anak yang sengaja dititipkan orang tuanya untuk direhabilitasi dan diberikan penanganan lebih lanjut. Anak-anak tersebut ada yang berusia lima, hingga delapan tahun," katanya.

Selain itu, lanjut Elly, penggunaan zat adiktif di kalangan remaja juga mendongkrak jumlah gangguan jiwa secara tajam. Pasalnya, zat tersebut bisa membuat seseorang memiliki keinginan terus menggunakannya, meskipun tidak baik bagi tubuh.

"Ada juga remaja yang kecanduan karena zat adiktif, kecanduan alkohol, dan juga merokok yang menjadi gerbang dalam penggunaan napza lainnya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Jabar, Arief Sutedjo mengatakan, anak-anak juga memiliki potensi tinggi menjadi sakit jiwa karena kondisi sosial yang berkembang di masyarakat. Untuk mengurangi dampak tersebut, orang tua dan guru memiliki peran penting membangun sikap anak.

"Misalnya guru BP (bimbingan sosial) harus bisa mengajarkan anak agar menghindari hal negatif yang bisa ada di sekolah. Mereka juga harus diajarkan bisa bergaul dengan lingkungan yang baik," ungkapnya.

Di sisi lain, Staf Khusus Gubernur Bidang Kesehatan, Siska Gerfianti mengatakan, pada 2030 persoalan kesehatan yang paling banyak menghantui masyarakat adalah penyakit tidak menular. Salah satu yang dikhawatirkan, kata dia, adalah meningkatnya penyakit depresi.

Persoalan depresi tersebut timbul karena tekanan sosial di berbagai hal, hingga penyebaran berita bohong (hoaks).  Sebab, banyak dari masyarakat yang kerap mengalami stres ketika mendengar sebuah kabar yang terjadi, di mana informasi tersebut belum tentu benar.

"Dengan penyebaran hoaks depresi bisa meningkat. Maka kita harus cegah bersama penyebaran hoaks," tandasnya.[son]

Komentar Pembaca