KABUPATEN GARUT

STAIPI Kenalkan Konsep Membaca, Berawal Dari Kasus Warga Yang Buta Aksara

Pendidikan  SABTU, 12 OKTOBER 2019 , 15:59:00 WIB | LAPORAN: M NUR EL BADHY

STAIPI Kenalkan Konsep Membaca, Berawal Dari Kasus Warga Yang Buta Aksara

Buku Literasi Masagi/RMOLJabar

RMOLJabar. Tahun 2014, STAIPI Garut melakukan survey di salah satu kecamatan di Kabupaten Garut tentang kemampuan masyarakat akan literasi. Namun hasil dari riset yang melibatkan ribuan responden tersebut cukup mencengangkan karena 43,34 persen masyarakatnya buta aksara.

Berawal dari survey tersebut, setelah melewati sejumlah fase muncul metode pengajaran literasi bernama Masagi (Maca Sakali Ngarti). Dalam Masgi sendiri terdapat 12 metode pembelajaran literasi yang memadukan sistem budaya lokal sunda.

Koordinator Perumus metode literasi Masagi, Heri M Tohari menyebut bahwa terdapat 12 teknik pembelajaran literasi dalam metode Masagi.

"Mulai dari sakali moyeg, sakali guyub, sakali nempo, sakali ngawih, sakali aksara, sakali nyusun, sakali keprok, sakali kotret, sakali ulin, sakali wayang mitekar, sakali refleksi, dan sakali pamingkal," ujarnya, Sabtu (12/10).

Dalam 12 konsep pembalajaran tersebut, dikatakan Heri Untuk mengembangkan tiga potensi manusia yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kelebihannya, Masagi memiliki spirit budaya lokal. Tujuannya sendiri adalah menjadikan budaya lokal menyelesaikan persoalan-persoalan di lapangan.

"Konsep masagi ini memang sistem literasi berbasis budaya sehingga istilah yang kita gunakannya adalah istilah kesundaan. Yang paling penting masagi adalah follow up dari hasil riset yang melibatkan 5.793 responden di salah satu kecamatan di Garut yang hasilnya 43,34 persen buta aksara tahun 2014," katanya.

Usai mendapatkan hasil tersebut, selama lima tahun dilakukan berbagai gerakan untuk memberantas buta aksara di wilayah tersebut, mulai dengan pembentukan kelompok literasi sampai pembentukan konsep Masagi. Di tahun 2018, kemudian dilakukan uji konsep dengan melibatkan empat perguruan tinggi di Garut dan melibatkan dosen-dosen lintas ormas Islam.

"12 konsep pembelajaran ini hasilnya Alhamdulillah cukup signifikan, di mana setelah dilakukan uji coba di laboratorium terdapat kecenderungan kenaikan kemampuan membaca masyarakat. Ke depannya kita mencoba dengan sistem Masagi diadopsi menjadi semangat baru terhadap sistem literasi berbasis keormasan islam," jelasnya.

Sementara itu, Ketua LPPM STAIPI Garut, Pepen Irpan Fauzan menyeut bahwa konsep Masagi menjadi salah satu cara untuk mengenalkan literasi sejak dini namun menyenangkan.

"Selama ini guru kan kaku ketika mengajar siswa sehingga yang terjadi para siswa ini bosan. Dengan metode ini tentu akan menjadikan lebih menyenangkan karena mengajar sambil bermain sehingga lebih efektif. Dan meski konsep yang digunakan budaya sunda, tapi bisa direplikasi dengan budaya di tempat lain dan ini bermakna bahwa basis budaya bisa mengajarkan literasi lebih efektif," katanya. [yud]



Komentar Pembaca
Ingatkan Sukmawati, Sultan Tidore: Kita Semua Anak Pejuang
Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 , 03:13:53

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

JUM'AT, 15 NOVEMBER 2019 , 21:58:09

Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

SENIN, 21 OKTOBER 2019 , 22:53:00

Bentrok Dengan Polisi, Puluhan Mahasiswa Luka Dievakuasi Ke UNISBA