Setiap Tahun, Jumlah Bayi Karena Kurang Gizi Di Ciamis Menurun

Kesehatan  KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 16:10:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Setiap Tahun, Jumlah Bayi Karena Kurang Gizi Di Ciamis Menurun

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Ciamis Casuli/RMOLJabar

RMOLJabar. Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat angka penderita stunting, atau bayi tumbuh lambat karena kekurangan gizi di Ciamis menurun. Pada tahun 2018 bayi stunting lebih kecil ketimbang pada tahun 2017.

Angka penurunannya cukup tinggi, dari 7,36 persen atau 5.831 pada 2017 menurun jadi 6,47 persen atau 4.847 pada 2018.

"Jadi angka stunting menurut prevalensinya pada tahun 2017 itu ada di angka 7,36 persen atau menurun di 2018 menjadi 6,47 persen. Jadi hampir 1 digit turunnya. Lumayan banyak," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Casuli di kantornya, Kamis (17/10).

Dia menjelaskan, bahwa stunting adalah kekerdilan pada bayi akibat gizi buruk. Stunting juga bisa disebut tumbat (tumbuh lambat) pada bayi sehingga tinggi badan bayi di bawah rata-rata anak seumurannya.

"Jadi stunting itu tidak hanya bicara ukuran tubuh. Tetapi juga ukuran organ yang ada di dalam tubuh. Orang stunting mempunyai tubuh pendek, berarti  ukuran kepalanya juga kecil. Sehingga isi yang ada di dalam kepala atau otak, juga akan kecil," kata dia.

Sementara pada 2019, jumlah bayi yang mengalami kurang gizi kronis atau stunting, menurut kisaran ada di kisaran 3.780 bayi. Tersebar hampir di seluruh kecamatan se-Kabupaten Ciamis. Dia menegaskan, angka itu lebih akan terus menurun dari tahun ke tahun.

Dia mengungkapkan, saat ini stunting menjadi trending topik di Indonesia. Lantaran masalah kesehatan itu merupakan indikator kesejahteraan anak di Indonesia. Sementara, katanya, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mencatat bahwa angka stunting Indonesia masih dalam kategori sangat tinggi.

Meski begitu, lanjut Casuli, jika dibandingkan dengan kabupaten/kota di Jawa Barat, angka stunting di Kabupaten Ciamis masih dibilang rendah.

"Ada 14 kabupaten/kota yang menjadi fokus utama Provinsi Jawa Barat untuk diintervensi. Biasanya itu kabupaten dengan jumlah penduduk yang besar seperti Cianjur, Karawang, Bogor, Tasikmalaya, dan Sukabumi," ujarnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa akibat dari stunting selain mempunyai tubuh pendek. Pada usia 40 tahun penderita akan mudah terkena penyakit tidak menular seperti diabetes atau kencing manis, hypertensi, dan jantung.

"Bahkan kemungkinan orang dengan stunting mempunyai kognitif atau kecerdasan lebih rendah daripada orang yang normal. Semakin banyak yang stunting berarti juga kan semakin banyak yang kurang cerdas," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, ada beberapa cara untuk melakukan pencegahan agar jumlah stunting semakin menurun. Pertama, mulai memperbaiki lingkungan dengan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Yang harus diperhatikan faktor penyebab stunting bukan hanya gizi sebetulnya. Banyak hal yang tidak kita sadari datang dari perilaku kita misal perilaku hidup kurang sehat. Seperti tidak mencuci tangan sebelum makan juga kan bisa cacingan. Sekali cacing masuk ke dalam pencernaan kita dia akan menghambat penyerapan makanan yang kita makan," pungkasnya. [Rizal Nurdian/yud]



Komentar Pembaca
Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

Bentrok Dengan Polisi, Puluhan Mahasiswa Luka Dievakuasi Ke UNISBA
IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

SENIN, 21 OKTOBER 2019 , 22:53:00