Sekolah Siaga Bencana Di Garut

Pendidikan  JUM'AT, 18 OKTOBER 2019 , 10:58:00 WIB | LAPORAN: M NUR EL BADHY

Sekolah Siaga Bencana Di Garut

Simulasi Bencana di Sekolah Dasar/RMOLJabar

RMOLJabar. Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki beragam potensi ancaman bencana sehingga tidak jarang disebut sebagai mini market bencana. Beragam kegiatan sebagai langkah mitigasi becana dilakukan, salah satunya pembentukan sekolah siaga bencana.

Di wilayah Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, dua SD Negeri (I dan IV Barusari dibentuk menjadi sekolah hijau dan siaga bencana) oleh LPPM Universitas Islam Nusantara. Pembentukan sekolah sebagai bagian dari langkah pencegahan dan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.

Ketua LPPM Uninus, Ibrahim Danuwikarsa menyebut bahwa bencana diakibatkan oleh faktor alam, non alam, hingga manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis

"Kabupaten Garut memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana yang tinggi.  Indeks kerawanan bencana  Kabupaten Garut  termasuk peringkat ke dua di Provinsi Jawa Barat," ujarnya, Jumat (17/10) di SDN Barusari IV, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut.

Dengan melihat hal tersebut, kata Ibrahim, pembentukan sekolah hijau dan siaga bencana sebagai upaya untuk menghilangkan dan mengurangi ancaman bencana.

"Tentunya ini sangat penting untuk dilaksanakan karena upaya pencegahan bencana ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama masyarakat karena yang terdampak langsung atas kejadian bencana adalah semua masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah hijau dan siaga bencana merupakan upaya kesiapsiagaan terhadap bencana yang isinya serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat melalui pembangunan fisik, penyadaran, dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Sekolah hijau dan siaga bencana yang dilaksanakan di SD Barusari I dan IV, disebutnya untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap  siswa dalam upaya penyadaran lingkungan dan mitigasi terhadap bencana.

"Hal tersebut memang harus ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan rumah maupun disekolah, dan  diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

Ibrahim menyebut bahwa model sekolah hijau dan siaga bencana merupakan sekolah yang berbudaya lingkungan dan siaga dalam menanggulangi bencana.

Pelaksanaannya sendiri secara sistematis mengembangkan program-program untuk  mengimplementasikan nilai-nilai lingkungan dan kesiapsiagaan bencana kedalam seluruh aktivitas  kegiatan di sekolah.

"Dengan kata lain sekolah hijau dan siaga bencana sebagai upaya yang nyata dari sekolah dalam menyelamatkan Lingkungan dan masyarakat sekitarnya," sebutnya.

Model sekolah hijau dan siaga bencana, dikatakan Ibrahim merupakan sinergitas multistakeholder, yaitu Kemenristekdikti Uninus melalui program pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu darma dari Tridharma Perguruan Tinggi.

"Selain itu juga ada kontribusi pihak perusahaan hingga pemerintah melalui BPBD Kabupaten Garut dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut," ungkapnya.

Sekokah hijau dan siaga bencana diaebutnya merupakan upaya rekayasa sosial di bidang pendidikan dan  lingkungan yang sistematis, komprehensif dan berkelanjutan dengan partisipasi dari  multistakeholder.

Dengan begitu, maka terbentuk sinergitas multistakeholder dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat untuk menjadikan generasi muda hidup bersih sehat dan kreatif dengan tetap menjaga dan melestarikan lingkungan, serta siap dan siaga dalam menghadapi bencana.

Selain itu, lanjutnya, di dua sekolah pun para guru diharuskan menggunakan kurikulum berbasis lingkungan.

"Jadi guru didorong untuk melaksanakan proses pembelajaran mengarah pada upaya pembentukan perilaku siswa yang peduli lingkungan dan siaga terhadap bencana dengan mengembangkan model pembelajaran yang aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari peserta didik," jelasnya.

Kurikulum tersebut, lanjutnya, kemudian diintegrasikan dengan pendidikan lingkungan hidup sesuai dengan komponen, standard dan standar proses, yang mengacu kepada implementasi sekolah adiwiyata Kementrian Lingkungan Hidup  dan sekolah siaga bencana sesuai dengan Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2012 tentang penerapan Sekolah/ Madrasah Aman Bencana (SMAB) yang menjadi landasan pelaksanaan penerapan pendidikan kebencanaan.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan menyebut bahwa sudah seharusnya langkah pencegahan dan kesiapsiagaan dilakukan oleh seluruh stake holder.

"Tingginya ancaman bencana di Kabupaten Garut menjadi salah satu alasannya," ucapnya.

Saat ini, menurutnya, kesadaran dalam pencegahan dan kesiapsiagaan masyarakat masih kurang karena bernagai faktor. Pihaknya sendiri selama ini selalu berusaha melakukan berbagai langkah mitigasi untuk meminimalisasi bencana dan dampaknya.

"Memang di Garut ini ada bencana yang karena ulah manusia seperti longsor, banjir dan lainnya. Oleh karenanya proses penyadaran akan lingkungan harus diterapkan sejak dini sehingga terbentuk generasi yang tangguh dan cinta lingkungan," pungkasnya. [yud]




Komentar Pembaca
Ingatkan Sukmawati, Sultan Tidore: Kita Semua Anak Pejuang
Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 , 03:13:53

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

JUM'AT, 15 NOVEMBER 2019 , 21:58:09

Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

IMM Gelar DAD Di kampus STEBISMU Sumedang

SENIN, 21 OKTOBER 2019 , 22:53:00

Bentrok Dengan Polisi, Puluhan Mahasiswa Luka Dievakuasi Ke UNISBA